Masa Lalu dan Masa Depanku

Waktu itu masih di tingkat sekolah menengah pertama. Awal pengenalan dimasa remaja. Dengan putih biru, kedekatan dan rasa ke lawan jenis mulai muncul. Karakter labil yang membuat rasa penasaran semakin nyata adanya.

Hari senin, hari pertama kami mengenakan seragam ini. Masih bersih, lipatan setrika masih jelas, sepatu hitam mengkilap, tas di punggung, rambut yang dikepang dua, ditambah senyum yang sumeringah. Perasaan bahagia, senang, gugup, canggung semua menjadi satu bersama halaman buku baru yang siap dengan goresan tinta penuh warna.

Para senior dengan sentakannya ketika masa orientasi membuat kami takut. Kami hanya bisa menahan air mata. Teriknya matahari membuat tenggorokan ini kering. Bagaikan terdampar di gurun sahara ditemani kalajengking si raja gurun dengan capitnya yang mematikan. Sebuah tepukan di pundakku, aku diam menoleh ke arahnya. Bibirku pucat dan anak itu hanya tersenyum kepadaku.

“Tidak usah takut, ini cuma sandiwara mereka”. Kata-kata itu bagaikan oase di tengah gurun ini. Sebuah pengalaman masa sekolah yang cukup tragis buat kami.

7 hari masa orientasi sekolah pun tak terasa telah berlalu. Kami mulai dengan duduk rapi di kelas sambil menunggu wali kelas. Senyum malu-malu untuk memperkenalkan diri ke teman-teman baru di kelas. Entah siapa yang memulai, kami pun langsung akrab. Obrolan kami serentak terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu.

“Selamat pagi anak-anak”. Ucap seorang wanita paruh baya dengan senyumnya yang damai. Ya, itu adalah wali kelas kami, Ibu Rosmia. Masih dengan senyum di bibir merahnya, Ibu Ros membagikan selebaran kepada kami.

“Karena sekarang masih awal, jadi kita butuh perkenalan lebih dahulu”. Kata Bu Ros kepada kami. Kami mengisi kolom data pribadi di selebaran yang telah dibagikan oleh beliau.

Hanya tersenyum, hanya itu yang Bu Ros lakukan sambil membolak-balik lembaran data kami.

“Oiya anak-anak, sebelum perkenalan, ibu menawarkan kepada kalian, apakah ada yang ingin menjadi ketua kelas?”. Kami hanya tunduk dan diam. Suasana kelas tiba-tiba hening. Kami sebenarnya tidak takut, kami cuma belum terbiasa, kami masih kaku dengan keadaan ini. Suasana hening terpecah, ketika terdengar suara lantang dan keras dari seorang anak laki-laki di ujung sana.

“Saya bu…!!”. Sambil mengacungkan tangannya. Bu Ros memberikan tanda ke anak tadi untuk maju ke depan kelas.

“Ini dia ketua kelas baru kita, silahkan ketua perkenalkan dirinya dulu”. Dia mengangguk dan mulai memperkenalkan dirinya.

“Saya Fadil Syam, biasanya dipanggil Fadil. Dulu bersekolah di SD Bina Nusa. Salam kenal teman-teman”. Senyumnya manis masih sama seperti masa orientasi dulu. Sebuah hadiah tepuk tangan yang meriah buat Fadil dengan jabatan barunya.

Aku dan Yuyun, teman sebangkuku berjalan menuju kantin sekolah. Berbagai aktifitas di sepanjang koridor yang kami lalui. Ada yang sibuk dengan buku pelajarannya, sibuk dengan obrolannya, hingga sibuk menjahili orang. Inilah kehidupan di masa SMP. Kantin yang cukup ramai ketika itu, aku dan Yuyun kesulitan menemukan tempat duduk yang kosong. Untung kami bertemu dengan teman-teman sekelas kami. Eko, Hasan, Riza, Sofi dan Fadil tentunya yang sedang asik menikmati minuman mereka.

“Loh, kalian berdua dari mana?”. Tanya Sofi ketika kami menghampiri mereka.

“Dari koperasi, temani si Dinda”. Jawab Yuyun sambil melihat ke arahku, dan aku hanya tersenyum.

“Ayo duduk, berdiri terus daritadi”. Eko menarik kursi kosong di sebelahnya. Tepat waktu itu aku berada di sebelah Fadil, dia ternyata lebih manis. Tuturnya yang ramah membuat teman-teman senang terhadapnya.

Hari-hari kami menyenangkan di kelas VII. Teman-teman yang selalu membantu dalam akademik maupun non-akademik. Juga wali kelas kami yang selalu memberikan dukungan buat kami. Tak terasa setahun berlalu. Kelas VIII telah menanti. Sebuah tantangan dengan tingkatan yang lebih tinggi setingkat dari tahun lalu. Kami tidak lagi di jemur seperti pada masa orientasi kemarin. Di tahun ini ada dua kabar bahagia buat kami. Pertama, kami masih tetap satu kelas, yang kedua, Bu Ros masih mengajar kami, meskipun sudah tidak menjadi wali kelas kami lagi. Wali kelas kami yang sekarang adalah Pak Gunawan, seorang guru olahraga kelas IX.

Aku mencoba gaya baru dengan merubah model rambutku yang kekanak-kanakan ini. Mulai menggemari assesoris cewek yang lucu-lucu. Juga mulai menyukai lagu-lagu pop popular. Masa puberitasku mulai di kelas VIII. Banyak perubahan pada diriku. Bentuk panggul dan dada sudah berubah, dan tamu yang datang tiap bulannya. Semua ini normal, dan terjadi pada setiap wanita ke tahap dewasa.

Hari pertama di kelas VIII. Aku masih duduk sebangku dengan Yuyun, sahabatku dari kelas VII dulu. Mata pelajaran semakin membuat kepala ini pusing. Matematika bukan keahlianku, aku lebih senang dengan seni dibanding pelajaran yang akrab dengan berbagai macam angka itu.

Aku hanya duduk terdiam sambil memainkan pensilku ketika jam istirahat.

“Sendiri? Yuyun kemana?”. Suara yang ku kenal akrab itu membuatku terkejut, pensilku pun ikut terkejut dan terjatuh. Dipunggut dan ditaruhnya di atas meja kembali.

“Ou ya… itu… tadi Yuyun ke ruang kepsek”. Aku salah tingkah karena tatapan Fadil yang membuatku agak gugup.

“Ku temani boleh? Daripada sendirian”. Dia tersenyum, dan itu sangat manis.

“Oiya tadi matematikanya menyenangkan ya. Gurunya juga. Menurut kamu sendiri bagaimana Git?”. Tanyanya kepadaku.

“Biasa ajah koq Fad, aku gak begitu suka sama matematika, lumayan sulit untuk ku pahami”. Jawabku sambil manyun dan tetap memainkan pensilku.

“Kamu lucu ya Git”. Dia kembali tersenyum dan tertawa kecil.

“Bisa gak Fad panggilnya dengan nama Dinda ajah? Seperti teman-teman yang lain. Nama Gita terlalu kekanak-kanakan”. Protesku ke Fadil. Namaku yang terdiri dari dua kata, Dinda Sagita. Sama seperti bunda dan ayahku yang juga menggunakan nama Gita untuk panggilannya. Padahal menurutku, nama Dinda lebih baik.

“Kata siapa nama Gita itu kekanak-kanakan? Menurutku malah lebih bagus Gita daripada Dinda. Kamu tau gak Gita itu artinya apa?”. Aku hanya menggelengkan kepala.

“Nama sendiri koq gak tau artinya Git”. Fadil mulai tertawa. Aku hanya menikmati manisnya dia di saat tertawa.

Siang itu, seusai jam sekolah, Yuyun mengajakku ke mall. Tidak sedikit anak sekolah yang masih lekat dengan seragamnya yang berkunjung di waktu itu. Ini kali pertama Yuyun kabur dari supir pribadinya. Aku juga tidak mengerti apa yang sedang dia pikirkan. Kami menjelajahi setiap toko pernak-pernik cewek. Mondar-mandir ruang ganti di toko pakaian. Semuanya terlihat lucu dengan warnanya yang cerah.

“Lapar Din, makan yuk. Kali ini aku yang traktir deh”. Kabar gembira itu seraya membakar semangatku yang tadinya pudar karena lelah. Tempat ini lumayan mahal. Cuma kami yang masih berseragam putih biru. Pelanggan yang lain sepertinya mahasiswa dan para pengusaha muda. Menu makanan yang dipesan Yuyun tidak mengecewakan, semua enak dan mahal tentunya.

“Lagi kejatuhan duren ya Yun?”. Tanyaku sambil menikmati es teler warna-warni di atas meja. Cengiran yang tak begitu penting dari Yuyun sebagai jawaban dari pertanyaanku tadi.

“Din, punya email gak?”. Katanya singkat.

“Email juga buat apa Yun, kan ada telpon. Email cuma penting buat surat-menyurat antar Negara kan? Lebih murah katanya”. Kataku santai.

“Nah itu dia Din, besok aku harus berangkat ke New Zeland. Kerjaan papa pindah ke sana. Jadi aku, mama, dan Kak Budi harus ikut papa juga”. Aku serentak menghentikan makanku. Pernyataan yang di keluarkan Yuyun membuatku syok. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku memeluk sahabatku dengan erat. Entah bagaimana rasanya jika tanpa dia.

Kemarin adalah hari terakhirku bersama Yuyun. Tadi pagi aku meminta izin untuk mengantarnya ke bandara. Sebuah gantungan boneka kecil yang kami beli bersama kemarin tetap melekat di tasku. Pensil kodok hijau lucu adalah kado pemberiannya ketika aku berulang tahun bulan lalu, masih tetap menjadi alat tulis favoritku. Hanya dengan email kami bisa berhubungan dan bertukar cerita.

Bangku di sebelahku kosong sekarang. Teman-teman sekelas berusaha menghiburku setelah ke pindahan Yuyun. Eko yang terus mondar-mandir di depanku dengan kekonyolannya, berusaha menghiburku. Sofi yang sesekali membantuku menjawab soal-soal Bahasa Inggris dengan logat jawanya yang kental. Mereka sahabat yang baik, dan mereka pun kehilangan sosok Yuyun yang ceria.

“Cuma New Zeland ajah kok Git, kan gak jauh-jauh amat”. Fadil berusaha menenangkanku.

“Masih ada internet untuk berhubungan. Jadi tenang aja Git”. Tambah Fadil lagi dan aku hanya mencoba untuk tersenyum. Kemudian sebungkus coklat dia ambil dari saku seragamnya.

“Ini coklat dari New Zeland loh. Mau coba gak Git?”. Aku hanya meliriknya. Ditaruhnya coklat itu di tanganku.

“Ini untuk mengobati rasa kangenmu, enak loh”.

“Makasih ya Fad”. Sebuah senyuman sebagai balasan dari coklat ini yang aku berikan ke Fadil.

“Kamu akan lebih manis jika tersenyum dibandingkan coklat ini Git”. Tutur Fadil kemudian.

Semangat dan dukungan ini membuatku kembali bangkit. Benar kata Fadli, New Zeland dan Indonesia tidak jauh hanya di pisahkan oleh samudera saja. Hari-hari yang aku lalui tanpa Yuyun aku tulis di email. Banyak cerita seru yang aku kirimkan buat dia di sana.

Tak terasa waktu berlalu. Sudah setahun kepergian Yuyun ke benua seberang. Kami mulai dengan tahun ajaran baru di kelas IX. Kesiapan kami untuk menghadapi UN diawali dengan semangat tak gentar dari guru yang membimbing kami. Cukup tragis dengan menambahkan jam belajar ekstra.

Bagaikan bom waktu yang sedang menghitung mundur. Aku mulai takut. Kesiapanku masih perlu ditambahkan lagi, apalagi dengan matematika. Semenjak sekolah dasar, aku lemah dalam berhitung. Berbagai suplemen daya ingat pun kami konsumsi.

Kurang beberapa hari lagi kami menghadapi maut yang menakutkan ini. Sesuatu yang lebih menakutkan dari Pak Ridwan, guru yang paling ditakuti di sekolah ini. Berdoa dan terus belajar, itulah yang kami lakukan sebelum hari H-nya tiba.

Hari senin, hari pertama UN. Tim pengawas dengan kacamatanya yang menyilaukan membuat kami hanya terdiam. Soal yang kami harus selesaikan dengan waktu tertentu. Aku mulai dengan menarik nafas panjang, merilekskan tubuh dan mulai mengerjakan. Satu persatu soal pun terjawab. Inilah yang maksimal dari kami. Kami hanya pasrah kepada yang di atas setelah kami berusaha beberapa hari ini.

Pengumuman sekitar dua minggu lagi. Aku hanya berdiam diri di rumah dan terus berdoa. Berharap kami semua lulus. Sengang waktu dua minggu yang cukup lama, membuatku jenuh. Yuyun menyarankan mengisinya dengan kegiatan tertentu, misalnya les vocal. Kata Yuyun suaraku lumayan. Jika diasa terus menerus akan semakin merdu menurutnya. Aku dan Yuyun yang terus berkomunikasi lewat email. Banyak cerita seru dari Yuyun selama dia di sana.

Aku mencoba les vokal, teman bunda yang menjadi guru lesku. Kata beliau aku cukup berbakat. Tapi aku pikir ini hanya sekedar hobi saja, aku tidak ada keinginan untuk menjadi seorang penyanyi professional seperti yang ditawarkan beliau kepadaku.

Sekolah ramai. Anak-anak kelas IX berkumpul di lapangan. Hari ini adalah pengumuman kelulusan. Setelah sepatah kata dari kepala sekolah, hasil pengumuman dibagikan oleh wali kelas masing-masing. Kami terus berdoa dan berharap ini adalah kabar baik. Amplop yang dibagikan kepada kami tertera jelas nama kami masing-masing. Setalah ada aba-aba dari wali kelas, kami mulai membuka isi amplopnya. Aku gugup, tanganku berkeringat dan sedikit gemetar. Air mataku menetes setelah membaca kata ‘Selamat Anda Lulus’ di balik amplop itu. Kami bersorak. Kami semua lulus.

Sebuah coretan merah mewarnai bajuku. ‘Selamat’ tulisan tangan dari Fadil mengawali warna di seragam putih biruku. Aku pun melakukan hal yang sama tehadap seragamnya. Tradisi yang selalu ada di setiap pengumuman kelulusan.

Setelah hari itu, aku tidak pernah lagi bertemu teman-temanku. Entah mereka dimana sekarang. Kami terpisah. Lingkungan yang baru di sekolah menengah atas. Ada yang hilang ketika duduk di bangku SMA. Teman kelasku yang sekarang tidak cukup menyenangkan dari teman SMP yang dulu.

Seorang senior mulai mendekatiku waktu itu. Ini yang pertama kalinya buatku. Dia cukup menawan. Seorang atlit basket yang di gemari oleh setiap cewek di sekolahku. Tapi aku tidak memberikan respon yang berarti buat dia. Ceritaku dan Yuyun juga hampir sama. Yuyun mulai ditaksir cowok keturunan Indonesia disana.

3 tahun yang tak terasa di SMA. Berjalan monoton. Tidak ada yang begitu berkesan. Padahal kata orang-orang, masa SMA adalah masa yang paling indah. Tapi tidak buatku. Menurutku, masa SMP lah yang paling indah.

Aku mulai mengisi formulir ke jenjang yang lebih tinggi. Tujuanku adalah salah satu universitas ternama. Sudah sebulan ini Yuyun tidak memberiku kabar. Padahal aku ingin berbagi kesenangan karena aku bisa diterima sebagai mahasiswa di universitas yang kami berdua impikan sejak SMP dulu.

Lingkungan kampus jauh berbeda dibanding masa sekolah dulu. Mereka lebih cenderung individu. Pagi ini aku mulai dengan kelas pertamaku di gedung berlantai 4 sebelah gedung rektorat. Aku duduk di deretan kedua dari depan. Posisi ini sangat nyaman buatku. Tapi tetap aku masih merasa sendiri.

“Dinda ya? Benar Dinda kan?”. Ada yang menegurku dari belakang. Aku seperti mengenalnya. Dia Riza, teman SMPku dulu. Ternyata selain Riza, Sofi, Eko, Dina, Zaki juga ada. Mereka semua di sini. Sepertinya masa-masa SMP akan kembali terulang di bangku kuliah ini.

Sebuah pelukan erat tiba-tiba menghampiriku ketika kami sedang berjalan menuju kantin fakultas di lantai dasar. Rambutnya yang panjang dan terurai membuatku pangling dengan sahabatku sendiri, dia Yuyun, sahabat kecilku. Jika ini sebuah mimpi, aku tidak akan mencoba untuk bangun dari tidur, tapi bahagianya aku karena ini adalah sebuah kenyataan.

Kami berkumpul kembali. Teman-teman SMP ku sebagian besar kuliah di universitas ini. Yuyun yang menepati janjinya dengan belajar bersama di universitas impian kami. Ada yang kurang, sepertinya mereka belum lengkap. Aku tidak melihat Fadil. Kata mereka, Fadil meneruskan kuliahnya di luar negeri. Tak ada yang tahu dimana. Tapi aku berharap dia baik-baik saja.

Kebersamaan kami menjadi motivasiku memdapatkan indeks prestasi yang lebih baik dari semester kemarin. Sekarang kami bukan lagi anak remaja labil yang masih mencari jati diri. Kami telah melalui masa remaja dan berlanjut ke tahap dewasa dalam berpikir serta bertindak.

Yuyun memperkenalkan pacarnya yang selama 2 tahun ini menjalin hubungan dengannya. Dia cowok dari New Zeland yang berketurunan Indonesia juga. Aku senang melihat Yuyun sebahagia ini. Teman-teman yang lain pun menemukan pasangan mereka. Kabar bahagia di bulan ini tentang pernikahan Eko dan Sofi. Diam-diam mereka ternyata menjalin kasih.

Aku terlihat anggun dengan gaun biru muda yang pas di tubuhku. Yuyun telah menunggu diluar dengan warna gaun yang sama dengan yang aku kenakan untuk menghadiri acara yang sakral sahabat kami.

Sofi sangat cantik malam itu, dan Eko yang mendampinginya bagaikan pangeran berkuda putih tampan. Kami berkumpul di sana. Pernikahan sekaligus reuni kecil buat kami. Aku masih ingat Bu Ros wali kelas kami waktu kelas VII dulu. Rambutnya telah memutih tapi masih tetap cantik dengan senyumnya yang khas.

Hak tinggi ini membuatku tidak nyaman. Kakiku sakit. Aku mencoba mencari tempat duduk. Kakiku tersandung dan aku hampir terjatuh sebelum seseorang memegangi pundakku.

“Kamu gak apa-apa Git?”. Katanya khawatir. Aku kenal suara ini. Ini Fadil, ya, dia Fadil. Postur tubuhnya yang tegap dengan balutan tuxedo hitam. Dia berubah, jauh lebih tinggi dari perkiraanku. Aku senang bisa bertemu dia lagi. Kami membicarakan banyak hal dari sekian lamanya kami tak bertemu. Bahasanya lebih tertata, jauh lebih baik ketika masih SMP dulu. Perubahan dirinya yang aku suka, dia lebih dewasa sekarang.

Semenjak hari itu, aku semakin akrab dengannya. Rasa nyaman bila aku bersamanya. Karakternya yang matang menjadi penunjuk arahku dalam melangkah. Seseorang yang aku kagumi, teman SMP ku, cinta pertamaku, masa laluku dan masa depanku, Fadil Syam, suamiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s