Kami Sukses Bu, Pak!

sarjana

Aku Andina, sekarang aku sudah SMA kelas 3, tidak lama lagi aku mengikuti ujian nasional. Terhitung satu minggu lagi. Perjuangan terakhirku dengan seragam putih abu-abu ini. Selain cemas dengan ujian yang akan datang, aku juga mencemaskan ujian masuk perguruan tinggi. Banyak yang mengatakan melepas seragam putih abu-abu itu adalah langkah awal dari kehidupan sebenarnya. Hidup ini butuh perjuangan.

Tepat di tengah ruang keluarga, aku, kakakku dan adikku duduk bersama menonton tv. Ibu dan ayah yang sibuk dengan kertas-kertas mereka. Sepertinya mereka akhir-akhir ini sangat sibuk. Kakakku, Yandi, adalah salah satu mahasiswa tingkat 6 di salah satu perguruan tinggi negeri ternama. Dia mahasiswa teknik arsitektur. Dan adikku, Fandi masih duduk di kelas 2 SMP. Aku satu-satu  saudara perempuan mereka.

Kak Yandi banyak bercerita tentang kehidupan di perguruan tinggi. Mulai dari teman sengakatan, senior, dosen bahkan tugas-tugas kuliahnya yang mengerikan itu. Berbeda dengan anak SMA yang masih acuh, anak kuliahan lebih matang. Ingin rasanya bergegas melepaskan seragam putih abu-abu ini.

Tidak berapa lama setelah ujian nasional berlalu, aku mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Entah harus mulai dari mana, begitu banyak yang harus dipelajari. Memori otakku sepertinya harus ditambah satu tera lagi. Ini melelahkan. Ibu menyarankanku untuk ikut bimbingan belajar dan konsultasi untuk persiapan ujian ini.

Andina, S.E sepertinya menarik dan terlihat lebih lucu. Pilihanku jatuh pada jurusan ekonomi, aku memilih perguruan tinggi yang sama dengan kak Yandi. Perguruan tinggi itu benar-benar ternama, bangga rasanya bisa menjadi salah satu mahasiswa di sana.

Jantungku berdetak kencang, hari ini pengumuman ujian masuk perguruan tinggi keluar. Aku mulai berdoa dalam hatiku, jika takdirku di sana aku pasti ke sana. Dengan perlahan-lahan aku mulai membuka website dan memasukkan nomer peserta ujianku. Aku bersyukur, ternyata hasilnya sama dengan yang aku harapkan, “Aku luluuus bu!” teriakku. Ibu yang tadinya sedang memasak di dapur tiba-tiba berlari ke arahku kebingungan. Sekarang aku sudah resmi menjadi mahasiswa.

Setelah makan malam bersama, ayah menyuruh kami untuk tetap duduk. Tidak seperti biasanya, ibu menggenggam erat tangan ayah. Ini ada apa?. Beberapa lembar kertas ayah keluarkan. Di kertas itu jelas tertulis tentang jual-beli rumah. Ayah menarik napasnya dalam-dalam, mulai mengeluarkan suaranya dengan pelan. Aku, kak Yandi, serta adikku terkejut, rumah kami akan di jual. Rasa tidak percaya, begitu banyak pertanyaan di kepalaku. Aku baru saja menjadi mahasiswa, baru saja memulai kehidupanku di kampus, tapi kabar yang disampaikan ayah menutupi semua. Ayah bangkrut. Mereka harus menjual rumah ini untuk kebutuhan kami, agar kami bisa melanjutkan sekolah kami. Aku mulai menangis, mereka orang tuaku, mereka berjuang hanya untuk pendidikan terbaik buat kami, anak-anaknya. Kata ayah, kami tidak boleh berhenti sekolah. Dan keputusan ini harus diambil untuk biaya sekolah kami.

Rumah kontrakan yang agak jauh dari kota menjadi tempat tinggalku dan keluargaku sekarang. Hanya dua kamar tidur dengan cat pada dinding yang mulai memudar. Sepertinya rumah ini lama tak berpenghuni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s