Permainan Tradisional Bugis

Permainan Tradisional Bugis
Menurut Hans Daeng, permainan adalah bagian mutlak dari kehidupan anak yang merupakan bagian integral dari proses pembentukan kepribadian anak. Dengan sebuah permainan, dapat membantu terbentuknya kecerdasan intelektual seorang anak. Permainan akan menggali wawasan anak terhadap beragam pengetahuan. Ketika bermain, anak-anak akan mulai melepaskan emosinya. Mereka akan tertawa, berteriak, maupun berlari. Emosi yang dikeluarkan seperti ini akan menjadi terapi bagi psikologi anak. Hal seperti ini baik bagi kecerdasan emosi sehingga timbulnya sikap toleransi dan empati terhadap orang lain. Salah satu contohnya Makbenteng, permainan tradisional bugis yang dimainkan secara berkelompok ini diperlukan kerjasama dalam timnya.
Lain halnya dengan Andang Ismail (2009: 26) yang menuturkan bahwa permainan ada dua pengertian. Pertama, permainan adalah sebuah aktifitas bermain yang murni mencari kesenangan tanpa mencari menang atau kalah. Kedua, permainan diartikan sebagai aktifitas bermain yang dilakukan dalam rangka mencari kesenangan dan kepuasan, namun ditandai pencarian menang-kalah. Permainan yang kompetitif, kemenangan dalam suatu permainan akan menjadi tujuan akhir. Sportifitas dipermainan antara personal maupun antara tim menjadi pembelajaran sendiri bagi anak yang kelak bermanfaat dalam suatu kompetisi di kehidupan yang nyata.
Menurut Kimpraswil (As’adi Muhammad, 2009: 26) mengatakan bahwa definisi permainan adalah usaha olah diri (olah pikiran dan olah fisik) yang sangat bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan motivasi, kinerja, dan prestasi dalam melaksanakan tugas dan kepentingan organisasi dengan lebih baik. Maqgaleceng misalnya, permainan yang dulunya dilakukan malam sampai pagi hari sebagai acara rangkaian perkabungan ini perlu perhitungan yang tepat dalam peletakan biji (kerikil), dan pemenangnya yang mempunyai biji (kerikil) yang lebih banyak dari lawan mainnya.
Dari sudut pandang yang berbeda, definisi ‘permainan’ yang diterapkan oleh Huizinga banyak dianut oleh para ahli. Huizinga yang mengungkapkan konsep bermain merupakan suatu kegiatan manusia, didefinisikan sebagai;
(a) A voluntary activity existing out-side ‘ordinary’ life (aktivitas sukarela yang ada di luar sisi kehidupan biasa);
(b) Totally absorbing (penyerapan total);
(c) Unproductive (tidak produktif);
(d) Occurring within a circumscribed time and space (terjadi dalam waktu dan ruang yang terbatas);
(e) Ordered by rules (diatur oleh peraturan);
(f) Characterized by group relationships which surround themselves by secrecy and disguise (ditandai dengan hubungan kelompok yang mengelilingi kerahasian diri dan penyamaran).
Dari berbagai definisi yang dijelaskan oleh Huizinga, maka berbagai jenis kegiatan masyarakat adalah bermain. Tidak hanya manusia, kehidupan hewan juga dikenal kata ‘bermain’, sehingga Huizinga menyimpulkan bahwa suatu permainan sudah ada jauh sebelum dikenalnya budaya.
Dengan demikian permainan tradisional adalah kegiatan manusia yang mengekspresikan emosi yang bersifat hiburan dengan konseptual tertentu dan tetap berpegang teguh pada norma serta adat kebiasaan yang telah ada secara turun-temurun.
Bugis merupakan salah satu suku di Sulawesi Selatan yang mencakup hampir sebagian besar wilayah di Sulawesi Selatan. Bugis adalah suku yang tergolong dalam suku-suku Melayu Deutero. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi.
Permainan Tradisional Bugis adalah Aktifitas bermain yang tidak hanya memperoleh kesenangan tapi juga sebagai aktifitas olah gerak fisik dengan memadukan daya imajinasi dan olah pikir. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga dapat memberikan peran dalam permainan tradisional Bugis ini. Setiap permainan tradisional Bugis memiliki filosofi sendiri. Pada zaman dahulu dapat dikatakan bahwa hampir semua permainan tradisional Bugis dilakukan setelah panen. Hal tersebut disebabkan karena waktu panen hanya dilakukan dalam setahun sekali. Sehingga untuk mengisi waktu senggang yang cukup panjang maka lahirlah berbagai macam permainan tradisional Bugis.
Permainan yang tidak hanya dilakoni oleh satu atau dua pemain saja, bahkan terdiri dari lebih dua pemain yang menjadi satu tim. Sebuah tim dalam permainan memberikan nilai kerjasama dan tanggung jawab terhadap tugas masing-masing pemain dalam satu tim. Permainan tradisional memiliki dua kategori, yaitu permainan yang bersifat kompetisi dan permainan yang bersifat hiburan. Berikut adalah permainan tradisional Bugis baik yang bersifat kompetisi maupun hiburan.

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s